Depression
Depresi

English

Bahasa IndonesiaAku: “Sejak SMA aku mulai menjadi anak yang pendiam, sampai-sampai ibuku khawatir dan mengajak ke psikiater. Kukira bercanda, ternyata serius dan aku tidak mau. Selain itu penah menelfon wali kelas bertanya mengapa saya berubah.”

Sampai hampir pada akhir percakapan:

Jesika: “Jadi, lu cuma cerita ke gua?”

Aku: “Hmm.. (berpikir apakah penah ceita ke orang lain atau tidak) iya.”

Apa yang selama ini kupendam dalam hati sebagian kuceritakan ke jesika, orang yang hanya sebulan lebih kukenal. Dalam pikiranku, jika aku menceritakan semuanya maka akan ada hal buruk yang akan terjadi. Entah mengapa pikiran ini ada dan entah mengapa aku sangat meyakininya.

Aku menceritakan banyak hal ke jesika hanya untuk menguji apakah pendapatku benar atau tidak. Apa pendapatmu bagaimana rasanya menceritakan cerita yang dipendam selama bertahun-tahun? Sangat plong!

Aku berkesimpulan bahwa ternyata pendapat yang selama ini kupegang ternyata salah. Kalau kita terbuka maka orang lain akan menerimanya seburuk apapun itu.

Berbekal kesimpulan itu, saat pulang ke rumah setelah KKN aku ceritakan semua isi kepalaku dan apa yang selama ini kupendam dalam benaku selama bertahun tahun.

Salah satu tujuanku adalah ingin meningkatkan perekonomian keluarga agar tidak selamanya terpuruk dalam kemiskinan.

Aku belajar banyak tentang bisnis dengan tujuan mengembangkan usaha warung di rumah agar meningkat menjadi agen. Idenya aku mengantar barang dagangan kepada pelanggan secara gratis, meningkatkan jumlah barang kemudiang hingga meningkat membuka toko di pinggir jalan.

Sebuah ide mulia yang cemerlang? Oh tidak bagi ibuku. Ia menganggapku omong kosong yang cuma mau hasil doang. Ia menolak mentah mentah tanpa menghargai pendapatku. Dalam pikirannya warung ini harus begini saja, jika kita bekerja keras nanti akan besar sendiri.

Tanpa perencanaan sama sekali? Yang benar saja. Saya coba meyakinkan tidak mungkin tanpa perencanaan, pengelolaan keuangan, pengembangan usaha agar ada penambahan konsumen. Semua ditolak mentah-mentah.

Lebih jauh ia menganggapku tidak berkontribusi apapun bagi warung, cuma mengurangi jumlah nasi di rumah, cuma minta-minta duit, durhaka, tidak tau diri dan tidak akan berhasil karena tidak akan orang mau merekrut orang malas seperti saya.

Padahal saya jaga warung dan mengerjakan pekerjaan semuanya aku lakukan sambil mendengarkan makian yang merendahkan.

Jelas semuanya perkataannya tidak benar. Hatiku sakit, hancur, pedih dan menerita. Sangat kesal sampai rasanya ingin membunuh orang. Merasa tidak berguna, seperti rasanya ingin bunuh diri.

Oh jelas sudah ternyata ini sebab saya memendam semua cerita, gagasan, dan pikiran dalam dalam agar trauma yang sama tidak terjadi. Trauma dan depresi yang sama yang aku alami saat SMA.

Saat SMA, abangku mengalami depresi yang sama denganku dan waktu itu aku masih SMP. Ia bahkan sempat tidak shalat dan tidak bicara dengan ibuku selama 2 tahun. Tinggal serumah tanpa berbicara kepada ibumu selama 2 tahun?

Aku, abangku dan ayahku tidak pernah cekcok sekalipun satu sama lain dan dengan orang lain sedangkan ibuku memusuhi semua orang sehingga dibenci para tetangga.

Aku ngotot kuliah agar terbebas dari ibuku dan mengarungi dunia yang luas daripada terpenjara di rumah karena harus menjaga warung. Sampai akhirnya aku kuliah, dan menyadari bahwa aku berbeda dan tidak percaya diri karenanya.

Saya menyadari ternyata saya menciptakan yang disebut dengan kebenaran sekunder. Jadi begini: saya miskin, itu adalah kebenaran primer (yg sesungguhnya) namun saya tidak nyaman harus menceritakan kepada orang lain kalau saya miskin karena terlihat begitu kejam saya malah berkuliah bukannya membantu orang tua. Jadi buat kebenaran sekunder yaitu saya tidak miskin (buktinya orang tua punya tabungan puluhan juta (karena hidup hemat dan tidak tau uangnnya harus diapakan) yah meskipun sehari-hari pakai air kali yang banyak sampah).

Kemudian alasan saya kuliah agar dapat pekerjaan yang layak (kebenaran sekunder)

alasan saya kuliah agar dapat menghindari kehidupan yang membuat saya deperesi di rumah (kebenaran primer)

Alasan saya mengambil jurusan pendidikan dibanding TI adalah karena kampusnya lebih bagus, akreditasinya lebih bagus dan bermutu. (kebenaran sekunder)

alasan saya mengambil jurusan pendidikan dibanding TI adalah karena ilmunya bukan ilmu praktis, namun banyak yang teoritis sedangkan yang saya mau adalah praktis yang bisa saya pelajari di internet. (kebenaran primer)

dan banyak lagi yang lainnya.

Saya tidak percaya diri dan tidak siap dengan anggapan negatif jika seandainya mengatakan kebenaran primer. Jadi saya menjelaskan kebenaran sekunder. Namun pada akhirnya saya malah mempercayainya dan melupakan kebenaran primer dan antara kebenaran sekunder satu dan lainnya tidak cocok sehingga muncul celah yang tidak terjawab pada akhirnya. Seperti pertanyaan mengapa saya menjadi pendiam.

Kejadian setelah pulang KKN dan menceritakan semuanya kepada ibu yang akhirnya menyulut trauma dan depresi kembali.

Kutarik kesimpulan:

Jika jadi orang baik begitu menyedihkan dan tidak dihargai. Mengapa harus menjadi baik. Aku muak menjadi baik.

Nyatanya semua penjahat lahir dari lingkungan buruk dan orang tua yang buruk. Bukan kehendak seseorang menjadi jahat karena naluri manusia adalah berbuat baik. Jahat hanya sentimen orang yang tidak memahami orang lain secara dalam. Dan juga karena tekanan dan juga keterpaksaan.

Dunia memang tidak adil.

Jika aku punya uang, maka aku tidak akan tergantung pada orang tua. Persetan dengan gagasan mengembangkan usaha orang tua. Saya harus punya uang, bagaimanapun caranya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *