I Accepted In TI Major, But I Choose PAI
Saya Diterima di Jurusan TI, Namun Saya Memilih PAI

English None

Bahasa IndonesiaSaat SD, saya bercita-cita menjadi seorang penemu seperti Thomas Alfa Edison yang menemukan benda-benada yang berguna dan digunakan oleh orang di seluruh dunia di sepanjang zaman.

Saat SMP kelas 1, saya membaca buku yang berjudul 5 Keberanian Orang-orang Sukses. Saya jadi berpikir untuk menjadi orang kaya saja kemudian membayar sejumlah ilmuan untuk menciptakan benda-benda yang saya kehendaki. Hmm.. menarik.

Jadi semenjak SD saya bercita-cita untuk belajar di jurusan yang berbau mesin, elektronika, dan teknologi. Keinginan ini samakin besar saat saya hendak masuk SMA.

 

Sebaliknya saya kurang suka dengan jurusan agama. Karena menurut saya (waktu itu) ilmu agama lebih baik dipelajari di pesantren daripada di kampus.

 

Ditambah saya tidak suka dengan profesi guru. Menurut saya (saat masih SD-SMA) guru SD seharusnya minimal lulusan SD. Karena ia tahu ilmu SD, maka ia layak mengajar anak SD. Ketidaksukaan ini mungkin karena pengalaman-pengalaman buruk yang pernah saya alami yang saya ceritakan dalam tulisan ini: Kisah Saya Dari Murid Terbodoh Hingga Menjadi Rangking 1.

 

Di Indonesia guru apalagi non PNS bukanlah pekerjaan yang keren yang dipilih oleh anak-anak muda seperti saya saat itu. Saya bahkan berpikir seharusnya saya meletakan profesi guru paling bawah diantara profesi lainnya yang mungkin bisa saya geluti (dan mungkin banyak orang juga berpikir hal yang sama).

 

Sampai sini anda bisa lihat sebetulnya tidak ada alasan bagi saya masuk jurusan PAI bukan? Ups, tidak sampai disitu, mari kita lanjutkan . . .

 

Saat SMA, saya tertarik pada internet marketing dan mulai mempelajari dan mempraktekannya. Silahkan baca: Perjalanan Kegagalan Website yang Saya Buat. Saya mempelajari SEO, email marketing, affiliate, Google Ads dan banyak lagi yang lainnya.

 

Tibalah masa kelulusan saya, saya dihadapkan pada pilihan:

 

1. Mengikuti kursus untuk memperdalam ilmu internet marketing

2. Berkuliah di jurusan IT karena yang saya pelajari terkait dengan hal-hal yang terkait dengan IT

3. Kuliah di jurusan apapun jika TI tidak di terima

4. Bekerja

 

Saya mengikuti SNMPTN atau tes masuk kuliah dengan menggunakan nilai raport. Saya memilih jurusan: 1. Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati, 2. Agroteknologi UIN Sunan Gunung Djati, 3. Agrobisnis di UIN Syarif Hidayatullah. Btw, saya sangat tertarik dengan perkebunan dan pertanian makanya saya memilih jurusan tersebut pada pilihan 2 dan 3.

 

Kemudian sekolah membuka pendaftaran bagi siapa saja yang ingin mendaftar kuliah lewat jalur SPANPTKIN atau masuk kuliah dengan nilai rapot, hanya saja jurusan yang tersedia adalah jurusan agama saja.

 

Saya tidak menyianyiakan kesempatan tersebut, dan langsung mendaftar di jurusan Pendidikan Agama Islam (pilihan pertama) & Manajemen Pendidikan (pilihan kedua) di UIN Syarif Hidayatullah.

 

Saya memilih jurusan tersebut karena muatan agamanya cukup rendah dan mudah dibandingkan jurusan lainnya yang tersedia. Saya tidak ingin punya banyak hafalan karena saya memang sulit untuk menghafal dan kemampuan bahasa Arab saya sangat rendah.

 

Jadi rencana saya, jika di jurusan teknik informatika tidak lulus (pilihan pertama), saya akan mengambil jurusan agroteknologi (pilihan kedua). Kalaupun tidak lulus di jurusan agroteknologi, maka saya akan mengambil di jurusan agrobisnis (pilihan ketiga). Kalaupun tidak lulus di jurusan agrobisnis, saya akan mengambil jurusan PAI. Kalaupun tidak lulus di jurusan PAI, saya akan memilih jurusan MP, kalaupun tidak masuk MP, saya akan tes mandiri, ikut kursus internet marketing, atau kuliah sambil kerja atau full bekerja.

 

Saatnya menunggu waktu pengumuman kelulusan.

 

Dimomen ini saya membaca banyak tulisan mengenai jurusan teknik informatika itu, jurusan yang saya idamkan sejak saat SD! Saya mendapati bahwa materi ajarnya kurang lebih seperti ini:

 

img

 

Di teknik informatika seseorang dituntut untuk mampu menguasai algorima, matematika, sistem informasi dan sejenisnya.

 

Selain itu saya membaca tulisan mengenai jurusan PAI. Matakuliahnya seperti ini:

 

img

 

Waktu pengumuman hasil seleksi SNPTN pun tiba,

 

dan saya diterima di jurusan Teknik Informatika.

 

“Eh tapi kok gua nggak ngerasa seneng ya? Gua diterima di jurusan Teknik Informatika coy, gua ngalahin ribuan pendaftar kok malah biasa aja.” Saya mengalami perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

 

Tapi saya teguhkan hati saya bahwa ini jurusan yang akan saya pilih karena sangat keren, peluang kerja luas, saya akan mendapatkan ijasah teknik informatika dan nama saya akan menjadi Mukhlisin, S.Ti

 

Pengumuman SPAN PTKIN diumumkan dan saya diterima di Jurusan PAI. Anehnya saya merasa senang!

 

Ini aneh. Ada perasaan yang melampaui logika. Saya mencoba menganalisisnya dan saya menemukan alasannya.

 

Saat SMA saya dihadapkan pada pertanyaan untuk apa kita sekolah. Sebuah pertanyaan yang mendasar yang sangat sulit untuk saya jawab. Saya tidak pernah mengerti mengapa disekolah kita diajarkan sesuatu hal yang tidak pernah berguna bagi kehidupan kita padahal katanya belajar untuk masa depan, mengapa harus diisi belajar rumus matematika yang tidak pernah dipraktekan, ilmu kimia yang tidak pernah dipakai dan ilmu lainnya yang akan kita lupakan setelah kita lulus. Lengkapnya anda bisa baca: untuk apa sekolah?

 

Sebagai orang yang berorientasi pada hasil saya benci dipaksa mempelajari sesuatu yang tidak jelas tujuannya dan ternyata ini yang “menghambat” saya merasa senang saat melihat hasil pengumuman hasil seleksi SNPTN. Saya melihat mata kulianya dan menyadari ini bukanlah hal yang ingin saya pelajari. Jika saya tetap memutuskan untuk masuk, saya akan “tersiksa” sama tersiksanya saat saya masih SMA. Dan saya tidak mau itu.

 

Saya ingin kuliah bukan agar terlihat keren, punya gelar dan ijazah. Saya tidak ingin saat lulus SMA saya sama seperti lulus kuliah, saya dihadapkan pertanyaan dan jawaban:

“Ilmu apa yang saya dapat? Tidak ada.”

 

Saya juga ingin mendalami internet marketing, sesuatu yang tidak ada di jurusan kuliah. Apa yang ingin saya pelajari tersedia melimpah di internet secara gratis. Namun selelah mengalami banyak kegagalan dalam internet marketing, saya harus mempunyai guru. Maka pilihannya saya harus mengikuti kursus agar mentor saya dapat memberitahu kesalahan saya dan membimbing step by step.

 

Saya sempat mempertimbangkan mengambil kursus saja ketimbang berkuliah. Tapi saya pikir saya tidak mungkin tidak berkuliah. Saya ingin sekali berkuliah untuk menambah cakrawala pengetahuan dan pengalaman. Dirumah saya hanya menghabiskan waktu jaga warung dan diam di rumah saja. Satu hal yang kurang bagus bagi perkembangan anak muda seperti saya. Maka saya harus berkuliah.

 

Sampai sini anda bisa lihat sebetulnya tidak ada alasan bagi saya untuk tidak masuk jurusan PAI bukan? Ups, tidak sampai disitu, mari kita lanjutkan . . .

 

Jurusan PAI mempelajari 3 hal: pengetahuan umum, ilmu agama, dan ilmu pendidikan. Ini ilmu praktis seperti yang saya inginkan. Memang tidak semua tapi cukup banyak.

 

Ilmu umum: Bahasa Indonesia, saya belajar menulis yang baik. Bahasa Inggris memang saat itu sedang saya latih. Pancasila, seperti PKN, ini pelajaran favorit saya.

 

Ilmu agama, agama pastinya kita terapkan dalam kehidupan kita dan dijurusan ini saya mempelajarinya kembali.

 

Ilmu pendidikan, saya percaya mendidik adalah tugas semua orang untuk mendidik diri, orang lain, dan anak. Ini ilmu praktis yang akan berguna.

 

Karena jurusanny saya anggap “cukup ringan” saya akan punya banyak waktu untuk mempelajari dan mempraktekan internet marketing.

 

Akhirnya saya memilih untuk masuk jurusan PAI.

 

Ada percakapan menarik:

 

Tanya: Lu masuk jurusan komputer ya? Nama jurusannya apa?

Jawab: Gua masuk FITK jurusan PAI.

Tanya: FITK dan PAI itu apa?

Jawab: Fakultas Ilmu Teknik Komputer, jurusan Program Artificial Intelegent.

Tanya: Wow keren. Eh, memang ada jurusan itu?

Jawab: Nggak, gua ngarang aja haha. FITK itu Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. PAI itu pendidikan Agama Islam. Gua milih PAI nggak jadi TI.

Tanya: Oh gitu (terkejut).

 

***

Cerita ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman penulis, jika ada perbedaan persepsi mengenai satu dan beberapa hal dari cerita diatas mohon dimaklumi.

 

Setelah saya masuk jurusan PAI apakah saya bahagia? Baca selanjutnya: Pengalaman Berkuliah di Jurusan PAI UIN Syarif Hidayatulllah.

 

Setelah 4 tahun berkuliah di jurusan pendidikan, saya akhirnya tahu alasan mengapa kita harus sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *